Syekh Abdul Muhyi Dan Gua Safarwadi Pamijahan

50442 views

Tulisan kali ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yaitu: Sejarah Waliyullah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya dimasa mudanya, silahkan baca dulu agar dapat melengkapi informasinya… yuk dilanjut lagi kisahnya… setelah mendapat restu dari ayah dan ibundanya lalu Syekh Abdul Muhyi berangkat meninggalkan gresik untuk Mencari Gua sebagai mandat yang diterimanya dari Syekh Abdul Ra’uf gurunya, beliau menuju ke arah barat hingga sampai ke daerah Darma Kuningan yang terletak di Cirebon.

makam Syekh Abdul Muhyi Dan Gua Safarwadi Pamijahan

Menetap di Darma Kuningan

Syekh Abdul Muhyi bermukim di cirebon kurang lebih selama tujuh tahun, sebelumnya masyarakat darma kuningan menyambut Syekh Abdul Muhyi dengan ramah tamah karena ternyata daerah ini penduduknya sudah lebih dulu memeluk agama Islam.

Syekh Abdul Muhyi sering berinteraksi dengan masyarakat setempat karena orang-orang disana sangat mengagumi kepribadian Syeh yang sederhana dan dikenal mempunyai ilmu tinggi tentang agama islam, penduduk meminta beliau untuk menetap disana dalam rangka membina dan mendidik masyarakat dalam ilmu agama dan Syeh pun menerima tawaran tersebut hingga mencapai kurun waktu 7 tahun.

Kabar tentang keberadaan Syekh Abdul Muhyi dikuningan terdengar oleh Orang tua beliau di gresik kemudian memutuskan untuk menyusulnya kesana dan ikut menetap di darma cirebon bersama sang putra menemani perjalanannya mengemban tugas dari guru.

Kegiatan Syekh Abdul Muhyi dalam membina masyarakat sehari hari tak menyurutkan niat utama beliau dalam upaya mencari Gua seperti yang diperintahkan oleh gurunya, dengan mercoba beberapa kali menanam padi tetapi mengalami kegagalan karena ternyata hasil panennya melimpah. Sedangkan harapan beliau bahwa isyarat tentang keberadaan gua yang di ceritakan oleh syeikh Abdul ra’uf adalah apabila di tempat itu ditanam padi maka hasilnya tetap sebenih artinya si padi tidak bertambah banyak apabila dipanen dan itulah pertanda gua itu berada disana. Karena tidak menemukan gua yang dicari akhirnya Syeikh Abdul Muhyi bersama keluarga berpamitan kepada penduduk desa untuk melanjutkan perjalanan.

Menetap di Pameungpeuk Garut

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang sampailah beliau beserta ayah bundanya di daerah Pamengpeuk, Garut Selatan. Di sini ia menyebarkan agama islam kepada penduduk setempat yang kala itu masih memeluk agama hindu dan bermukim selama 1 tahun dari 1685-1686 Masehi, Setahun kemudian ayahanda beliau yang bernama Sembah LebeWarta Kusumah meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan.

Menetap di Lebaksiuh selama 4 tahun

Beberapa hari setelah pemakaman ayahandanya, Syekh Abdul Muhyi melanjutkan perjalanan guna mencari gua yang menjadi tujuan utama perjalanannya, kisah beliau berlanjut setelah menetap sebentar di Batu Wangi hingga sampai di Lebaksiuh dan bermukim disini selama 4 tahun (1686-1690 M). Dari Lebaksiuh ia melanjutkan perjalanan ke sebelah timur yaitu ke arah gunung yang terletak dikampung Cilumbu. Dari sana beliau turun ke lembah untuk bertafakur sambil melihat keindahan alam dan tetap menanam padi.

Bila sore hari tiba Syekh Abdul Muhyi kembali pulang menjumpai keluarganya di lebaksiuh, jarak  yang ditempuh antar keduanya tidak begitu jauh. Suasana alam pegunungan dikampung cilumbu selalu membawa perasaan tenang, maka gunung tersebut diberi nama Gunung Mujarod yang berarti gunung untuk menenangkan hati. Pada suatu ketika, Syekh Abdul Muhyi melihat padi yang ditanam telah menguning dan tiba waktunya untuk dipanen. Saat dipetik terpancarlah sinar cahaya kewalian dan terlihatlah kekuasaan Allah. Padi yang telah dipanen tadi ternyata hasilnya tidak lebih dan tidak kurang sama dengan ketika awal ditanam. Hal inilah yang menjadi pertanda perjuangan beliau dalam upaya mencari gua telah dekat. Untuk meyakinkan kembali adanya gua di dekatnya maka ditanam lagi padi ditempat itu sembari berdo’a kepada Allah semoga goa yang menjadi pencarian selama ini segera ditemukan. Akhirnya dengan kekuasan Allah, padi yang ditanam itu cepat tumbuh dan menguning, lalu dipetik ternyata hasilnya sama dengan panen yang pertama, dari sinilah ia meyakini bahwa di dalam gunung itu terdapat gua.

Syekh Abdul Muhyi Dan Gua Safarwadi Pamijahan

Syekh Abdul Muhyi Dan Gua Safarwadi Pamijahan

Ketika Syekh Abdul Muhyi berjalan ke arah timur, beliau mendengar suara air terjun dan kicaun burung yang asal suaranya berasal dari dalam lubang. Lalu dilihatnya lubang besar itu ternyata keadaannya serupa dengan gua yang diceritakan oleh gurunya. Seketika itulah kedua tangannya diangkat, memuji kebesaran Allah. Akhirnya ditemukan jua gua bersejarah, dimana ditempat inilah dahulu kala Syekh Abdul Qodir Al Jailani menerima ijazah ilmu agama dari gurunya yakni Imam Sanusi.

Gua ini berada diantara kaki Gunung Mujarod, sekarang lebih di kenal dengan nama Gua Safarwadi Pamijahan dan para peziarah sering mengunjungi gua ini setelah sebelumnya melakukan ziarah ke makam waliyullah Syekh Abdul Muhyi di pamijahan, Gua Safarwadi merupakan warisan dari Syekh Abdul Qodir Al Jailani seorang waliyullah yang hidup 200 tahun sebelum masa Syeikh Abdul Muhyi. Semenjak gua ditemukan, Syekh Abdul Muhyi semasa hidupnya bermukim disini bersama keluarga dan para santrinya.

Gua Safarwadi Pamijahan

Related Post

Leave a reply